Menikmati Keindahan Kilometer NOL Citarum

0
135
Menikmati Keindahan Kilometer NOL Citarum
Menikmati Keindahan Kilometer NOL Citarum

DUTAMEDAN.COM – Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, bisa disebut sebagai pintu masuk peradaban di Pulau Jawa. Paling tidak, di kawasan muara Citarum di ujung utara Karawang, ditemukan Situs Batujaya, situs tertua dan terluas Indonesia, peninggalan Tarumanagara yang eksis di abad ke-4 Masehi. 

Dari masa ke masa, Citarum berfungsi sebagai jalur air, penghubung dunia luar di lepas Laut Jawa, dan pedalaman selatan Jawa Barat. Pemukiman dan kawasan pertanian tumbuh di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum. 

Di masa pemerintahan Republik Indonesia, Citarum meningkat daya fungsinya. Kini ada tiga waduk atau bendung (Jatiluhur – Citara – Saguling) di aliran Citarum. Berguna bagi sistem pengairan pertanian, kelistrikan, dan sumber air bersih masyarakat luas. Sayangnya, kini Indonesia bersedih, karena para pemerhati lingkungan menabalkan Citarum sebagai satu dari sungai terkotor di dunia. 

Kita tak perlu ‘kebakaran jenggot’. Faktanya aliran Citarum memang rusak. Kian ke hilir alirannya kian keruh, coklat butek terkontaminasi sampah rumah tangga dan limbah berbahaya buangan pabrik-pabrik yang tegak di sepanjang DAS Citarum, menghadirkan banjir di tiap musim penghujan. 

Tahun 2001, Pemerintah dan berbagai elemen masyarakat peduli lingkungan bersih dan sehat, bergerak menata ulang DAS Citarum. Hasilnya? Lingkungan hulu dimana Citarum bermuasal kini lebih berdaya dan lestari.

Delapan Sungai

Hulu Citarum terletak di kawasan hutan Gunung Wayang. Persisnya di ujung Kampung Tarumajaya, Desa Cisanti, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Datang ke hulu Citarum, kita disodorkan potret lingkungan yang berbeda dengan kenyataan di bagian hilir hingga muara. Di sini, di rimbun hutan yang mengitari sebuah danau, hulu Citarum sungguh secuplik alam Indonesia yang indah, permai dan cantik.

Saya tak asing dengan kawasan ini. Tahun 1975, saya dan beberapa teman dari Bandung, pernah berkemah di hutan teduh yang banyak ditumbuhi pohon Kayu Putih (Ecaliptus alba), serta ragam pohon hutan hujan tropika Indonesia lain yang masyarakat lokal menyebutnya: Saninten (Berangan), Kiara, Ki Hiur, Rasamala, Ki Hujan, Ki Bako, Kiray, Ki Tambaga, Jamuju dan lainnya. 

Ada rawa purba yang masyarakat sekitar menyebutnya Rawa Bendungan, karena ibarat bendung alam, sumber beberapa mata air. Di masa kolonial Belanda, rawa purba ini ditata membentuk danau buatan, yang dalam Bahasa Sunda disebut ‘situ’. Karena letaknya di kawasan Desa Cisanti, maka disebut Situ Cisanti. 

Baca Juga:  Warga Tembung Pengedar Ekstasi Ditangkap

Tahun 2001, terkait gradasi lingkungan yang terus menggerus aliran Citarum, Pemerintah Indonesia menata ulang tempat camping paramuda pencinta alam Indonesia ini. Situ Cisanti ditata, hingga didapat luas 9 hektar, dengan tingkat kedalaman air bervariasi antara 40 Cm hingga 6 meter. Resmi dibuka pada tahun 2005, Wana Wisata Situ Cisanti ini juga popular dengan hastag (#): Kilometer NOL Citarum. 

Sesungguhnya tak cuma Kilometer NOL Citarum. Ada 7 (tujuh) sungai lain sama berhulu di Situ Cisanti, yakni: Sungai Cihaniwung, Cikahuripan, Cikawadukan, Cikolebere, Cipangsiraman, Cisadana, dan Sungai Cisanti yang jadi nama situ sekaligus desa: Cisanti.

Situ Cileunca menuju Situ Cisanti

Nyaris tak ada perobahan rute untuk ke Wana Wisata Situ Cisanti atau Kilometer NOL Citarum. Kini waktu tempuh juga lebih cepat, karena semua jalur sudah beraspal, paling tidak diperkeras batu makadam. Kendaraan umum pun sudah menjangkaunya, termasuk jasa ojeg sepedamotor di ruas-ruas tertentu. Tapi tentu, lebih nyaman dan cepat menggunakan kendaraan pribadi, apalagi sepedamotor trail. 

Butuh waktu sekitar empat hingga lima jam bermobil dari Jakarta. Ambil ruas tol Jakarta – Cikampek – Purbaleunyi, keluar di tol Buah Batu. Ketemu lampu merah, belok kanan menyusuri raya Kopo ke arah Bojong Soang hingga Raya Laswi di Soreang. 

Kini, kendaraan di tol ke arah Cileunyi tak perlu lagi masuk ke Kota Bandung. Di arah Kopo dan Cileunyi kini ada ruas tol baru yang langsung menuju Soreang, Ibukota Kabupaten Bandung. Tiba di daerah Ciparay, dapat berbelok ke Jalan Raya Pacet dan terus hingga Jalan Raya Cibeureum. Dari wilayah Pacet, medan mulai berkelak-kelok dengan ruas jalan yang hanya cukup untuk dua mobil. 

Bila dari Kota Bandung, silahkan sasar arah Alun-Alun Ciparay. Dari Terminal Ciparay ambil jalan menuju Kecamatan Pacet, atau bisa juga langsung menuju Kecamatan Kertasari. Dari Terminal Ciparay, kita juga bisa naik angkutan umum (minibus ataupun angkot) tujuan Kecamatan Kertasari, sambung dengan naik ojek ke Cisanti. 

 Bila dari Kecamatan Pacet, sebaiknya ambil arah menuju Desa Sukarame – Desa Cibeureum. Rute jalan di atas lebih baik dibanding jika mengambil rute melewati Desa Cikit, Desa Sukapura dan Desa Cibeureum.

Baca Juga:  1.238 Turis Kapal Pesiar Sandar di Tanjung Emas

Kilometer NOL Citarum juga bisa disasar melalui Pasar Pangalengan, mengarah ke gerbang PTPN VIII Pangalengan, lalu lanjut menuju Perkebunan Teh Talun Sentosa di Desa Santosa Kecamatan Kertasari. Bisa juga mengambil arah patokan menuju Cibolang Hot Spring di Desa Wanasuka, areal Perkebunan Teh Purbasari.

Geografis kawasan Situ Cisanti, selain menjadi bagian dari Gunung Wayang, juga dikelilingi Gunung Rakutak, Gunung Malabar, Bukit Bedil, dan Gunung Kendang yang merupakan batas alam Kabupaten Bandung dengan Garut. Lokasi ini juga cukup dekat dengan obyek wisata lain di Pengalengan seperti Gunung Puntang.

Deret-deret sawah, gunung, kebun teh, hingga hutan pinus, dan kontur gunung yang melatarbelakanginya, tak cuma bikin mata takjub, tapi juga mampu mengalihkan rasa mual akibat guncangan gerak kendaraan sepanjang perjalanan.

Panorama bukit dan kebun teh akan menemani perjalanan dari Pasar Pangalengan. Berturut-turut akan terlewati perkebunan sekaligus pabrik Teh Malabar di Desa Babakan, Perkebunan Teh Purbasari dan Pabrik Teh Kertasari di Desa Wanasuka, serta Perkebunan Teh Talun Santosa di Desa Santosa, sebelum kemudian tiba di kasawan Gunung Wayang. Kilometer NOL Citarum sudah di depan mata.

Situ Cisanti

Wana Wisata Situ Cisanti buka tiap hari, Senin – Minggu, pukul 08:00 – 17:00 wib. HTM Rp 12.000/orang. Parkir mobil Rp 9000 dan sepedamotor Rp 4000. Tempat asyik buat ngumpul bareng teman, abadikan pesona Situ Cisanti dengan berfoto di spot-spot instagenic, bercengkrama menunggu proses matahari yang akan tenggelam. 

Membawa jaket atau baju hangat sangat disarankan, sebab biasanya kabut turun sore hari menjelang malam, menjadikan udara dingin dan beku. Ada fasilitas MCK dan areal parkir luas. Ada beberapa warung makanan dan minuman di gerbang obyek Wanawisata Situ Cisanti yang menjual makanan ringan seperti tahu goreng, mi rebus atau mi goreng, mi bakso, serta seduhan kopi dan teh ataupun susu bandrek. 

Untuk menu spesial, sebaiknya bawa bekal sendiri. Beberapa keluarga tampak menenteng makanan rantang. Ada penyewaan tikar yang bisa digelar di pinggir danau. Nikmati bekal dengan tetap membuang sampah pada tempatnya. 

Baca Juga:  Menkumham Masuk Tim PDIP yang Laporkan KPK, Jokowi Tak Mempermasalahkan

Petilasan Raja Sunda

Kilometer NOL Citarum melengkapi daftar wisata danau di sekitar Bandung yang popular selama ini seperti Situ Ciburuy, Situ Lembang, Situ Patenggang, Situ Cileunca, dan lainnya. Wanawisata Situ Cisanti yang eksotik di selatan Kota Bandung ini, bikin kita betah berlama-lama menikmati suasana yang juga bikin hati jadi romantis. 

Bersantai di pinggir danau jernih dengan rumpun rumput lembang berjajar di tepiannya. Kita juga bisa belajar ihwal kehidupan satwa dan tumbuhan yang ada, mencatat dan memotretnya untuk dibuat laporan perjalanan

Situ Cisanti juga tak jauh dari objek wisata lain di selatan Bandung, seperti: Kawah Putih Ciwidey, Pine Forest Camp, Balitsa Lembang, Situ Cileunca, ataupun dan Terminal Wisata Grafika Cikole yang sering dijadikan lokasi foto prewedding.

 Satu hal yang tak boleh dilewatkan, di satu tepi dekat rumpun rumput lembang, ada dua mata air muncul dan mengairi Situ Cisanti. Masyarakat percaya, lokasi itu adalah petilasan Raja Sunda. Konon di kolam mata air itu, doeloe Prabu Siliwangi pernah membersihkan tubuh disaat kunjungan kerja menginspeksi wilayah. 

Hingga kini, ada saja pengunjung yang menggunakan kolam mata air tersebut untuk tempat ‘membersihkan diri’, lahir batin. Untuk itu, sila menghubungi kuncen atau penjaga mata air tersebut yang akrab disapa Abah Atep. Bersikap sopan dan santun, saat berkunjung atau mandi di kolam mata air tersebut, sungguh laku terpuji. 

Jangan juga lupa menjaga kebersihan lingkungan. Rapikan dan bawa kembali kemasan kantong bekas malanan, tempatkan di bak sampa di dekat gerbang masuk. Ini juga merupakan bagian dari penghormatan kita pada tata nilai dan kearifan lokal yang berlaku 

Ingin bermalam? Sila ketua rombongan lapor diri ke pos jaga. Ada Camping Area di bagian sayap Situ Cisanti. Tersedia perlengkapan berkemah yang bisa disewa. Tak menutup kemungkinan membawa sendiri segala perlengkapan bermalam, termasuk kemah spesial yang bisa dipasang di atap mobil jip Anda. Ngeriung di lingkar api unggun dekat tenda, menikmari singkong bakar plus kopi jahe, sungguh merupakan pesona tersendiri. 

Ssst…! Jangan memanggang daging yang bisa mengundang datang hewan predator, jenis kucing besar yang masih menghuni kawasan sekitar. Enjoy your  trip.

Advertisements