Ini Pendapat BPODT soal Wisata Halal dan Festival Babi Danau Toba

0
218

DUTAMEDAN.COM – MEDAN, Polemik soal wisata halal di Kawasan Danau Toba (KDT) masih terus bergulir. Beragam pendapat muncul di berbagai media, termasuk di media sosial. Tak ketinggalan pula dari Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT). Kepada Media, Rabu (4/9/2019), Direktur Pemasaran BPODT, Basar Simanjuntak menjelaskan pandangannya soal wacana yang digulirkan Gubernur Sumatra Utara, Edy Rahmayadi tersebut.

Pertengahan 2018, jelas Basar, ketika mulai merencanakan Calendar of Events Danau Toba, mereka mulai mempertimbangkan bagaimana tentang hal-hal yang menghormati sekaligus membuat nyaman para wisatawan. Apalagi, wisman dari Malaysia yang agak dominan di KDT. Wisman Malaysia rata-rata sekitar 60%. Mungkin karena ikatan emosi dan juga jarak serta ekonomi nasionalnya cukup bagus.

“Memang kita harus merencanakan daerah ini sesuai persepsi pelanggan kita, bukan sor-sor sendiri, tentu tanpa melupakan sosial budaya dan kearifan lokal, termasuk ketersediaan informasi di sosial media,” jelas Basar.

Wisman Malaysia yang datang, sambung Basar, ternyata bergeser ke second city Malaysia (Ipoh, Trengganu). Yang asal Kuala Lumpur masih menunggu atraksi baru dan hotel baru.

“Ada 2 survei yang menjadi referensi kami, yaitu survei dan masukan dari Air Asia dan penumpangnya dan juga survei yang dilakukan Bank Indonesia. Dalam kedua survei tersebut yang paling signifikan adalah soal transportasi darat yang nyaman (murah, tersedia) dan ketersediaan makanan,” kata Basar.

Kalau urusan perut, memang ini urusan yang paling sensitif, dan kadang tidak bisa ditawar-tawar.

Dari persepsi pelanggan, walau terbiasa di hotel mewah, mereka happy-happy saja menginap di hotel bintang 2 asalkan sprei dan toiletnya bersih.

Soal perut atau makan, papar Basar, paling sering mereka menggerutu kalau lokasi rumah makannya jauh dan jenis makanan yang kurang bervariasi serta kurang higienis, apalagi kalau sudah menyangkut azasi atau iman.

“Pernah kami belajar menyiapkan makanan vegetarian kepada Duta Besar India dan keluarga di tahun 2018, ternyata telor pun tak bisa. Nah di jamuan kedua di rumah dinas salah satu kepala daerah pun, di samping tahu, tempe dan sayur, kami spekulasi menyiapkan ikan teri sambal, nggak dimakan juga,” terangnya.

Demikian halnya dengan wisatawan yang Muslim, lanjut Basar, mereka memang mengimani untuk makan di tempat yang sesuai dengan yang dia percayai.

“Nah, kebutuhan inilah yang perlu kita sediakan, sehingga mereka mendapat kenangan manis di Danau Toba dan akan bercerita mempromosikan Toba ke mana-mana. Begitulah akhirnya kami melihat kesiapan kuliner yang baik ini merupakan salah satu faktor kunci di kawasan Danau Toba. Dalam semua even, sebisanya kami mendukung dengan tambahan festival kuliner,” imbuhnya.

Kata Basar lagi, 3 hari lalu bosnya menanyakan bagaimana tanggapannya soal Festival Babi Danau Toba yang digagas Togu dan kawan-kawan.

“Aku katakan, tradisi itu realita. Bersyukurlah kita ada mereka yang bisa mengeksekusi tema itu, sehingga energi positif untuk memajukan daerah yang kita cintai ini bisa bergulir,” aku Basar.

Basar juga menjelaskan, di acara 1.000 Tenda Meat , Juni lalu, ia mencari B1 dan B2 tak ada. Tentu karena panitia ingin menghargai dan menghormati keberagaman peserta camping. Akhirnya yang laris manis tentu Indomie dan Baso Andaliman.

“Begitulah tourism atau pariwisata itu. Tourism is the possibilty of everything. Penuh dengan kejutan. Kejutan yang terus menerus itu basisnya inovasi dan kreativitas. Itu basisnya SDM. Hanya ketika masuk dalam ranah erencanaan dan roadmap tentu kita harus memasukkan kaidah-kaidah yang lazim dan world class standard,” aku Basar.

Pak Jokowi, jelas Basar, meminta fasilitas minimum, yakni atraksi, amenitas dan aksesibilitas. Ukurannya jelas kesejahteraan masyarakat.

Advertisements