Polsek Helvetia Lamban Tangani Kasus Penganiayaan Sarina (3). Riki Irawan, SH : “Polsek Helvetia seharusnya bisa melakukan penahanan meskipun dibutuhkan konfrontir”

0
244
Polsek Helvetia Lamban Tangani Kasus Penganiayaan Sarina (3). Riki Irawan, SH :
Polsek Helvetia Lamban Tangani Kasus Penganiayaan Sarina (3). Riki Irawan,

DUTAMEDAN.COM – HELVETIA, Penanganan kasus penganiayaan dan perampokan yang dialami Sarina Siregar (41) oleh Polsek Medan Helvetia mulai mendapat atensi dari pihak penyidik dengan melakukan pemanggilan terhadap korban guna dikonfrontir dengan keenam pelaku.

Namun, saat dimintai tanggapannya, Praktisi Hukum, Riki Irawan, SH menjelaskan bahwa jika bukti-bukti yang ada memang menunjukkan tentang adanya tindak pidana penganiayaan dan perampokan, pihak Polsek Helvetia seharusnya bisa melakukan penahanan meskipun dibutuhkan konfrontir.
“Konfrontir tidak selamanya menjadi dasar untuk pelaku tidak ditahan. Kalau bukti-bukti yang ada memang menunjukkan tentang adanya tindak pidana penganiayaan dan perampokan, pihak Polsek Helvetia seharusnya bisa melakukan penahanan meskipun dibutuhkan konfrontir,” ujarnya melalui telepon selulernya, Minggu (22/7/2019).
Riki menambahkan bahwa konfrontir dan penahanan memang kewenangan absolut penyidik dalam penyidikan. Namun dibutuhkan penahanan yang bertujuan untuk mencegah pelaku melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan mengulangi perbuatannya.
Hal inilah kadang membuat masyarakat pencari keadilan menjadi meragukan keseriusan penyidik untuk mengungkap kasus.
“Kalau polisi mau menahan, dapat dia lakukan kapan saja, kalau tidak menahan disitulah muncul kecurigaan. Disini kita juga jadi curiga, kenapa tidak ditahan? Kalau perbuatan ada, ya ditahan saja, apalagi ancaman pidananyakan diatas 5 tahun,” terang Riki mengakhiri.
Riki berharap pihak penyidik Polsek Helvetia untuk mempercepat proses penyidikan agar pelapor mendapat kejelasan hukum terkait laporannya. Terlebih lagi, saat ini korban mengalami ketakutan untuk kembali kerumahnya.
“Saya minta pihak penyidik mempercepat proses hukumnya. Kan azas penegakkan hukum itu cepat, sederhana dan berbiaya murah,” harapnya mengakhiri.
Diberitakan sebelumnya, Lambannya penanganan kasus penyerangan, penganiayaan dan perampokan yang dialami Sarina Siregar (41) hingga korban merasa jiwanya terancam akhirnya memasuki babak baru. Penyidik Polsek Helvetia membuat surat panggilan Nomor : S.Pgl/157/VII/RES.1.6/2019 kepada korban untuk dikonfrontir dengan keenam pelaku penganiayaan dan perampokan. Nah lho…?
“Laporan pengaduannya dengan Nomor STTLP/423/VI/2019/SU/POLRESTABES MEDAN/Sek Medan Helvetia. Atas nama pelapor Sarina Siregar sudah dilakukan pemeriksaan dan korban sudah di visum, rencana tindak lanjut Senin (22/7/2019) dilakukan konfrontir,” ujar Kapolsek Medan Helvetia, Kompol Pardamean Hutahean kepada wartawan melalui telepon selulernya (WA), Sabtu (20/7/2019).
Namun saat dikonfirmasi tentang status para pelaku penganiayaan dan perampokan yang nekat melakukan penyerang terhadap korban, Kapolsek Helvetia mengatakan terlapor masih berstatus terlapor.
“Dari hasil riksa, masih berstatus terlapor. Kita konfrontir baru kita gelar perkara untuk menetapkan statusnya. Setelah itu baru kita terbitkan surat perintah penangkapan,” terangnya.
Dilokasi terpisah, Sarina Siregar menjelaskan bahwa ia sangat kecewa dengan tindakan penyidik Polsek Medan Helvetia. Pasalnya ia merupakan korban penganiayaan dan perampokan mengapa pelaku masih bisa berkeliaran.
“Saya dipukul, ditunjang, diseret dan dijambak, hasil visum ada, foto luka lembam diseluruh tubuh juga ada. Rumah saya dirusak sampai 2 kali, uang saya Rp 50 Juta dirampok, kenapa pelaku tidak ditangkap? Malah disuruh konfrontir!,” kesalnya sambil meneteskan air mata.
Sarina menambahkan, semua harta yang saya miliki itu hasil usahanya sendiri. Suaminya sejak tahun 2000 sudah pensiun dan setiap bulannya hanya menyisakan gaji pensiun Rp 1,3 Juta.
“Mobil, kereta, perhiasan saya itu saya dapat sendiri, saya berjualan untuk bisa bertahan hidup. Mobil, kereta dan rumah itu atas nama saya, bukan suami saya, apa dasar anak tiri itu bilangkan harta bapaknya? Malah sekarang sakit-sakitan, saya yang merawatnya,” bebernya.
Lalu Rina berharap pihak Polsek Helvetia tegas menindak pelaku penganiayaan dan perampokan yang dialaminya. “Kemanapun akan saya kejar untuk mencari keadilan, kalo perlu saya akan menjumpai bapak kapolri. Saya hanya minta kepada Polsek Helvetia untuk menindak pelaku penganiayaan dan perampokan kepada saya,” harapnya mengakhiri.
Untuk diketahui, Sarina Siregar (41) warga Jalan Klambir 5 Perumahan Anisalala, Tg Gusta mengalami luka disekujur tubuhnya usai menjadi korban penganiayaan beramai-ramai oleh anak tirinya. Akibatnya, seluruh tubuhnya babak belur membiru akibat ditunjang dan dipukuli para pelaku, Selasa (18/6/2019) lalu. Selain itu, harta benda korban juga diambil paksa oleh para pelaku, Selasa (18/6/2019) lalu. Adapun identitas para pelaku adalah AP, YY, YK, YN, VR dan HR (menantu). (Rom)
Advertisements