Asal Muasal Marga Aritonang, Anak Laki-laki ke- 6 Siraja Lottung

0
2017

DUTAMEDAN.COM – Aritonang adalah anak laki-laki ke – 6 dari Siraja Lottung dan cucu dari Tuan Saribu Raja. Dari perkawinannya Aritonang memiliki 3 (tiga) anak laki-laki yang tercatat hidup dan meneruskan keturunan hingga saat ini. Ketiganya kini telah berkembang menjadi belahan marga Aritonang yang semi independen.

Sesuai urutan kelahirannya, ketiga anak laki-laki Aritonang ini adalah sebagai berikut:
1. Ompusunggu
2. Rajagukguk
3. Simaremare

Konsentrasi marga Aritonang kebanyakan/mayoritas bermukim di daerah Muara Toba yang terletak di pesisir Timur Danau Toba dan juga terdapat di pulau Sibandang, Danau Toba, Sumatera Utara.

Namun diluar daerah-daerah tersebut banyak juga ditemukan keturunan Aritonang yang telah merantau dan berkembang sejak berabad-abad yang lalu.

Didaerah muara yang mayoritas penduduknyaadalah marga Aritonang. Umumnya mereka sudah menggunakan nama marga sesuai percabangan dari ketiga anak Aritonang tersebut. Namun untuk yang berada di luar muara, para keturunan marga Aritonang yang sudah merantau beberapa abad yang lalu lebih suka menggunakan nama marga Aritonang sebagai satu kesatuan.

Karena suatu masalah dalam keluarga besar keturunan Rajagukguk dimasa lalu, telah menyebabkan salah seorang keturunan memisahkan diri. Mereka membentuk marga sendiri, yang dibuat khusus untuk keturunannya sendiri, yaitu: Marga Haro (Rajagukguk), meski tidak banyak, namun status marga ini juga sudah semi independent dan diakui oleh kalangan marga-marga batak lainnya.

Sebagai catatan marga haro (rajagukguk) ini berbeda dengan marga Haro (Munthe), salah atu marga keturunan Kelompok besar Nai Ambaton (Parna) yang juga keturunan si Raja Batak. Meski begitu dalam berbagai acara adat mereka tetap digolongkan ke dalam Rajagukguk ataupun Aritonang secara umum.

Di daerah muara, ketiga belahan marga Aritonang ini telah saling menikahi karena di daerah marga mayoritas penduduknya bermarga Aritonang, sehingga sulit mendapatkan jodoh yang berbeda marga.

Baca Juga:  Satpol PP Simalungun Cegah Virus Corona dan Bubarkan Masyarakat Berkumpul

Halini sudah umum terjadi dan sudah diakui secara adat. Namun khuus untuk 1 belahan marga yang sama tetap tidak diperbolehkan dilakukan pernikahan.

Begitu pula marga Haro (Rajagukguk) dengan Rajagukguk tetap dianggap 1 (satu) marga sehingga tidak diperbolehkan saling menikahi.

Advertisements