DUTAMEDAN.COM – Berbicara tentang perkawinan budaya batak memang tidak ada habisnya, dari sisi larangan juga ada seperti yang sudah diulas di artikel Perkawinan Yang Dilarang Adat Batak Toba. Terus Apa saja 9 proses perkawinan dalam kebiasaan Batak Toba? Pada suku Batak Toba perkawinan ialah adalahsuatu peristiwa besar, mengundang hulahula, boru, dongan tubu serta dongan sahuta sebagai saksi pelaksanan adat yang berlaku. Dalam adat Batak Toba perkawinan mestilah diresmikan secara adat menurut adat dalihan na tolu, yaitu Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Perkawinan pada masyarakat Batak Toba paling kuat sampai-sampai tidak gampang untuk bercerai sebab dalam perkawinan tersebut tidak sedikit orang-orang yang tercebur dan bertanggung jawab di dalamnya. Adapun tata teknik perkawinan secara normal menurut peraturan adat terdahulu merupakan perkawinan yang mengekor tahap-tahap berikut:

Proses Perkawinan Dalam Budaya Batak Toba
Proses Perkawinan Dalam Budaya Batak Toba

1. Mangaririt

Mangaririt ialah ajuk-mengajuk hati atau memilih gadis yang bakal dijadikan menjadi calon istrinya cocok dengan kriterianya sendiri dan kriteria keluarga. Acara mangaririt ini dilaksanakan kalau calon pengantin laki-lakinya ialah anak rantau yang tidak sempat menggali pasangan hidupnya sendiri, sampai-sampai sewaktu laki-laki tersebut kembali kampung, maka orang tua dan family lainya mencarai wanita yang sesuai denganya guna dijadikan istri, tetapi wanita yang dicarikan itu harus cocok dengan kriteria silaki-laki dan kriteria keluarganya.

2. Mangalehon Tanda

Mangalehon tanda dengan kata lain memberikan tanda yang bilamana laki-laki sudah mengejar perempuan sebagai calon istrinya, maka dua-duanya kemudian saling menyerahkan tanda. Laki-laki seringkali memberikan uang untuk perempuan sementara perempuan memberikan kain sarung untuk laki-laki, setelah tersebut maka laki-laki dan perempuan tersebut sudah tercebur satu sama lain. Laki-laki lantas memberitahukan urusan tersebut kepada orang tuanya, orang tua laki-laki akan mengajak prantara atau domu-domu yang telah mengikat janji dengan putrinya.

3. Marhusip

Marhusip dengan kata lain berbisik, tetapi pengertian dalam artikel ini ialah pembicaran yang mempunyai sifat tertutup atau dapat pun disebut perundingan atau percakapan antara duta keluarga calon pengantin laki-laki dengan wakil pihak orang tua calon pengantin perempuan, tentang jumlah mas kawin yang mesti di sediakan oleh pihak laki-laki yang akan di berikan kepada pihak perempuan. Hasil-hasil percakapan marhusip belum butuh diketahui oleh umum sebab menjaga adanya bisa jadi kegagalan dalam menjangkau kata sepakat. Marhusip seringkali diselenggarakan di lokasi tinggal perempuan. Domu-domu calon pengantin laki-laki akan menjelaskan maksud kedatangan mereka pada kaum kerabat calon pengantin perempuan.

4. Martumpol

Martumpol untuk orang Batak Toba bisa disebut pun sebagai acara pertunangan tetapi secara harafiah martupol ialah acara kedua pengantin di hadapan pengurus jemaat gereja diikat dalam janji guna melangsunkan perkawinan. Martupol ini dihadiri oleh orang tua kedua calon pengantin dan kaum kerabat mereka beserta semua undangan yang seringkali diadakan di dalam gereja, sebab yang menyelenggarakan acara martumpol ini kebanyakan ialah masyarakat Batak Toba yang Beragama Kristen.

5. Marhata Sinamot

Marhata sinamot seringkali diadakan selesai menyalurkan jambar. Marhata sinamot yaitu merundingkan berapa jumlah sinamot dari pihak laki-laki, fauna apa yang di semblih, berapa tidak sedikit ulos, berapa tidak sedikit undangan dan dimana dilaksanakan upacara perkawinan tersebut. Acara marhata sinamot bisa juga dirasakan sebagai perkenalan sah antara orang tua laki-laki dengan orang tua perempuan. Mas kawin yang diserahkan pihak laki-laki seringkali berupa dana yang jumlah mas kawin itu di tentukan lewat terjadinya tawar-menawar

6. Martonggo Raja

Perkawinan pada masyarakat Batak Toba tidak saja urusan ayah dan ibu kedua calon pengantin, namun adalahurusan seluruh keluarga, karena tersebut orang tua calon pengantin akan mengoleksi semua anggota family di lokasi tinggal mereka setiap dan yang muncul dalam upacara ini terutama mencantol dalihan na tolu yakni hula-hula, boru, dongan sabutuha, dan dongan sahuta (teman sekampung).

7. Marunjuk

Marujuk ialah saat berlangsungnya upacara perkawinan, upacara perkawinan pada masyarakat Batak Toba terdapat dua macam yakni alap dan taruhon jual. alap jual ialah suatu upacara adat perkawinan Batak Toba yang lokasi upcara perkawinan dilakukan di lokasi atau di dusun perempuan.

Pengantin wanita dijemput oleh pengantin laki-laki bareng orang tua, kaum kerabat dan semua undangan ke lokasi tinggal orang tuanya. Pihak pengantin laki-laki tidak jarang menyebut istilah ini mangalap boru( menjemput pengantin perempuan). Pada acara merunjuk inilah bakal berjalan seluruh upacara perkawinan dari santap sibuhai-buhai, pembagian, dan mangulosi.

8. Paulak Une

Acara ini dimasukkan sebagai langkah supaya kedua belah pihak bebas saling kunjung mendatangi setelah sejumlah hari berselang sesudah upacara perkawinan yang seringkali dilaksanakan seminggu sesudah upacara perkawinan, pihak pengantin laki-laki dan kerabatnya, bareng pengantin pergi ke lokasi tinggal pihak orang tua pihak pengantin perempuan. Kesempatan berikut pihak perempuan memahami bahwa anak perempuanya kerasan tinggal di lokasi tinggal mertuanya.

9. Maningkir Tangga

Upacara ini pihak wanita pergi mendatangi pengantin dirumah pihak laki-laki, dimana mereka makan bareng melakukann pembagian jambar. Pada hakekatnya maningkir tangga ini dimaksudkan supaya pihak wanita secara langsung menyaksikan dari suasana putrinya dan suaminya sebab bagaimanapun mereka sudah terikat oleh hubungan kekeluargaan dan sekaligus memberi nasehat dan tuntunan kepada pengantin dalam membangun rumah tangga.

Kesepakatan pada nilai-nilai sosial adalahdasar yang penting untuk banyak kelompok, khususnya dalam perkawinan. Tiap-tiap pasangan perkawinan memiliki nilai-nilai kebiasaan sendiri, hal-hal yang dirasakan penting oleh setiap pihak. Jarang sekali urusan ini disepakati secara lengkap. Setiap pasangan dapat bertolak belakang keinginannya dalam menilai hal-hal seperti penataan keuangan, rekreasi, agama, menunjukkan kasih sayang, hubungan-hubungan dengan menantu mereka, dan tata cara.

Nilai-nilai sosial meliputi sekian banyak pola-pola tingkah laku yang luas. Suatu nilai yang penting ialah perkawinan tersebut sendiri. Pada dasarnya, sikap terhadap perkawinan, laksana suatu nilai tidak jarang merupakan hal penentu dalam keberhasilan perkawinan. Bagi banyak sekali orang, perkawinan ialah nilai tunggal mereka sangat penting, dan mereka akan melakukan segalanya yang bisa mereka kerjakan untuk menyesuaikan secara memuaskan.

Advertisements

9 KOMENTAR

  1. Thank you, I’ve recently been looking for information approximately this topic for ages
    and yours is the greatest I’ve came upon so far.
    However, what about the bottom line? Are you positive about the source?

  2. Yesterday, while I was at work, my cousin stole my iPad and tested to
    see if it can survive a 25 foot drop, just so she can be a youtube sensation. My apple ipad is now
    broken and she has 83 views. I know this is completely off topic but
    I had to share it with someone!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.