Sejarah Becak Siantar, Kereta Perang di Jalur Kenangan

0
1342
Sejarah Becak Siantar, Kereta Perang di Jalur Kenangan
Sejarah Becak Siantar, Kereta Perang di Jalur Kenangan

DUTAMEDAN.COM – BSA-Birmingham Small Arms-kereta perang besutan Inggris di masa tahun 1937 hingga 1956 itu ternyata bukan salah satu jenis kendaraan perang yang dulu mengaspal di jalanan Kota Pematangsiantar. Kompatriotnya sebagai sepeda motor tangguh buatan Inggris untuk keperluan militer, juga dulu menderu memberi warna di Kota Pematangsiantar.

Sayangnya, umur kereta perang itu tidak setangguh BSA yang sejak th. 1956 udah jadi angkutan umum roda tiga, becak. Perjalanan mesin-mesin perang yang menghiasi jalanan Kota Pematangsiantar itu tetap menempel kuat didalam kenangan Muhammad Darwin (63), masyarakat Jalan Seram Kelurahan Bantan Siantar Barat.

Semangatnya berputar kencang pas menceritakan histori mesin-mesin itu jadi angkutan umum yang melegenda jadi “Becak Siantar”.

“Sekarang yang ada tinggal BSA. Namun dahulu bukan ini saja jenisnya yang jadi becak atau milik pribadi. Ada Triumph 750 cc, Albert John Stevens (AJS), Matchless, Ariel dan Norton. Semuanya keluaran Inggris,” kenangnya. Tidak ada ketersediaan suku cadang mesin-mesin itu, kata dia, jadi cikal dapat kepunahannya hingga hampir tidak ada tersisa satupun di Pematangsiantar.

“Itulah segi kelemahannya. Jika suku cadangnya rusak, kita mencari bangkai berasal dari kendaraan sejenis. Onderdil yang dapat digunakan, itulah yang dipasang. Demikian seterusnya, hingga selanjutnya tidak ada kembali bangkai kereta sejenis untuk menyuplai kereta yang rusak. Akhirnya seluruh kereta itu – tak hanya BSA – hilang berasal dari Pematangsiantar,” ungkap pemilik BSA berkapasitas 600 cc itu.

Meniru Mobil ABRI GAZ Buatan Rusia

Tidak seperti kebanyakan becak di seantero tanah air, bersama gandengan terbuka atau penutupnya dapat dilipat, becak Siantar memiliki gandengan bersama penutup permanen berbahan terpal sebagai atap, anggota depan terdiri berasal dari plat besi bersama kaca di segi depan dan bagasi terbuka di anggota belakang.

Bentuk yang bertahan hingga saat ini itu, idenya datang berasal dari seorang pemilik Becak bernama Pak Kampret. “Awalnya becak Siantar juga seperti becak-becak lainnya. Terbuka dan dapat dilipat. Namun th. 1959, senior kita Almarhum Pak Kampret, memperoleh inspirasi berasal dari mobil dinas ABRI pas itu. Kalau tidak salah, pas itu ABRI ada memakai kendaraan Jip GAZ buatan Rusia. Dari bentuk mobil inilah, Pak Kampret mengawali idenya dan mendapat pemberian seluruh kawan-kawan. Jadilah bentuk becak Siantar seperti saat ini ini,” sadar Muhammad Darwin.

Seiring waktu, pemilik dan peminat becak BSA tambah banyak di Pematangsiantar. Tidak tanggung-tanggung, BSA didalam jumlah besarpun didatangkan berasal dari pulau Jawa. Keterlibatan rekan-rekan mereka yang pas itu bertugas di militer, memiliki andil besar mendatangkan mesin-mesin perang itu ke Pematangsiantar.

“Waktu itu kita memiliki teman yang bertugas di militer. Dari dia inilah kita memperoleh informasi, kalau BSA, Triumph, Norton, Ariel dan AJS dapat didapatkan bersama enteng di pulau Jawa. Perburuanpun dimulai, hingga selanjutnya Siantar jadi gudang BSA untuk Indonesia,” kenang dia lagi.

Namun sebelum inspirasi Pak Kampret itu datang, inspirasi menjadikan kereta-kereta perang itu jadi angkutan roda tiga datang berasal dari seorang putra Batak. Sayangnya, Muhammad Darwin lupa marga berasal dari pemilik inspirasi itu.

“Ide menempatkan gandengan untuk penumpang itu datangnya berasal dari teman kami, orang Batak. Tapi aku lupa, apa marganya. Penyempurnaannya seperti saat ini ini, berasal dari Pak Kampret,” ujarnya.

Spare Part Motor Jepang dan Truk

Seiring pas berjalanan, kereta-kereta perang itu tambah tua. Satu persatu, spare partnya terasa aus dan tidak berfungsi. Perlu peremajaan agar nada khas bariton BSA dan kompatriotnya yang lain itu dapat jadi angkutan yang ditunggu-tunggu tiap tiap hari di persimpangan jalan.

“Kami terasa kesusahan mencari spare partnya. Selain sesungguhnya udah tidak ada kembali dijual, spare part berasal dari bangkai mesin udah habis semua. Namun kita tidak putus asa. Khususnya untuk BSA, kita selanjutnya menemukan solusi mengatasi kelangkaan suku cadang ini,” terang Muhammad Darwin yang juga mekanik untuk mesin BSA.

Untuk urusan piston dan block-nya, pemilik maupun mekanik BSA dapat memakai piston dan block mesin mobil buatan jepang. Demikian juga bersama kain kopling dan kampas rem, milik salah satu jenis truk dapat mereka modifikasi dan sesuai untuk BSA mereka. “Untuk yang terlampau baru ada juga namun bukan khsusus untuk BSA. Seperti rantai sepeda motor jepang ada yang sesuai untuk BSA. Tali rem dan tali kopling Vespa terlampau sesuai untuk BSA. Selain panjang, juga terlampau kuat. Untuk platina dan karbu, suku cadang motor jepang ada yang cocok, namun berpengaruh pada tenaga maupun mengkonsumsi bahan bakarnya,” tuturnya.

Tergeser Sepeda Motor Jepang Hingga Kehilangan Identitas

Jumlah becak Siantar – BSA – yang dulu tercatat di th. 1990-an ada sekira 1986 unit, bersama silinder 250 cc, 350 cc, 500 cc hingga 600 cc. Waktu itu, Zulkifli Harahap sebagai Wali Kota Pematangsiantar dikenal terlampau peduli bersama nasib BSA khususnya penarik BSA – abang becak.

“Kami dikumpulkan pas itu sekalian dicatat total BSA yang ada di Siantar. Itu tetap jumlah yang tercatat. Belum yang tidak tercatat. Tapi saat ini barangkali kira-kira 200 unit saja,” kenang Darwin.

Seorang teman Darwin, yang ditemui pas menunggu sewa di seputaran Jalan Diponegoro Pematangsiantar, juga terasa prihatin bersama eksistensi si kereta perang pemberi nafkah itu.

“Sudah terasa sedikit jumlah kami. Kalau adapun, keretanya bukan BSA. Sudah banyak yang memakai sepeda motor baru buatan jepang dan cina. Mungkin segi sulitnya suku cadang tadi, mereka berubah membeli kendaraan yang tetap baru,” ujar Pak Dudung (71) sedikit lesu.

Kehadiran mesin-mesin baru itu, kata dia, tidak dapat dilarang. Apalagi pemiliknya juga rekan-rekan mereka yang pada mulanya menunggangi BSA. Walau dia akui, nilai histori dapat identitas becak Siantar tidak mirip antara BSA bersama merk jepang sekarang. “Inikan peninggalan perang dunia II, udah tentu terlampau bersejarah. Banyak turis asing yang datang ke Siantar ini bedecak takjub tiap tiap naik becak saya. Terlebih kalau dia berasal dari Inggris. Soalnya, mereka tahu. Pabriknya saja udah lama tutup di sana, namun di sini mesinnya tetap dapat mengejar mobil,” ujar Dudung yang memiliki nama lengkap Abdullah Sani itu.

Walau terasa tergeser product Jepang dan mereka tidak dapat berbuat apa pun untuk menyelamatkan BSA, ke dua senior soal BSA di Siantar itu prihatin bersama tambah hilangnya ciri khas becak Siantar. “Salah satu ciri becak Siantar itu ada pada warnanya. Dominan biru dan kuning bersama warna merah, hijau dan coklat menghiasi.

Namun sekarang, dampak berasal dari tidak ada perhatian pemerintah, masuklah perusahaan seluler. Dicatlah becak-becak itu mengikut warna khas mereka. Hilanglah salah satu atribut yang jadi identitas becak Siantar. Saya hanya dapat bersedih melihatnya. Apalagi teman-teman tentu disodorkan sejumlah duwit untuk mempengaruhi warna itu. Itu pilihan yang tidak dapat diganggu. Mungkin karena menyangkut keperluan hidup,” kata Darwin.

Tinggal 5 hingga 10 Tahun Lagi untuk Bertahan

Banyaknya peminat BSA untuk koleksi pribadi, jadi tantangan besar saat ini ini. Situasi itu diperkeruh bersama tambah sulitnya kastemer pengguna jasa becak. Angkutan umum yang udah memasuki jalan-jalan sempit dan sepeda motor yang enteng didapat bersama cara kredit, menjadikan becak Siantar lebih sering jadi jilatan matahari di pinggiran jalan.

“Kalaupun dapat bertahan paling lama 5 hingga 10 tahun. Soalnya banyak yang mencari BSA ini. Harga termurah saja saat ini didalam kisaran Rp 25 juta dan yang dulu aku dengar, milik teman aku dapat terjual Rp 80 juta,” ujar Pak Dudung.

Besarnya angka untuk satu unit BSA itu, dikuatirkan dapat menggoda para pemilik BSA untuk menjualnya dan menukar bersama becak besutan Jepang atau Cina yang dapat ditebus jauh lebih murah. “Bertahan berasal dari godaan itu, salah satu cara menyelamatkan BSA berasal dari Siantar. Namun hingga kapan dapat bertahan, karena godaan duwit didalam jumlah yang lumayan besar konsisten berdatangan. Namun aku udah tekadkan, sebesar apa pun tawaran itu, menjual BSA tidak dapat aku lakukan,” tegas Darwin yang mengaku BSA-nya dulu ditawar Rp 60 juta oleh seorang kolektor.

Mesin-mesin tangguh bersama nada gahar seperti Triumph, Ariel, AJS, Norton, Matchless hanya kenangan bagi pemilik BSA. Era modern, kejayaan mesin-mesin kemenangan pasukan tempur Perang Dunia II itu tetap dapat tergambar berasal dari saudaranya — Birmingham Small Arms (BSA) – yang tetap mempertontonkan keangkeran dan keangkuhannya dapat melewati pergantian zaman.

Mesin-mesin sebagai saksi dan juga anggota berasal dari pelaku kekejaman perang itu terasa tergilas mesin modern. Godaan rupiah para kolektor terasa meredupkan stimulus melestarikan BSA sebagai ciri kendaraan di Pematangsiantar. Kereta perang yang dahulu penuh gempita kemenangan itu menderu di jalan untuk dikenang.

Kereta perang yang dahulu penuh gempita kemenangan itu menderu di jalan untuk dikenang.

**Mahadi Sitanggang – Wartawan Harian cahaya Indonesia Baru (SIB) Propinsi Sumatera Utara,,,Wilayah kerja Kabupaten Batubara

Advertisements